Memaknai Relasi Islam dan Budaya
Catatan ringan ini saya
tulis tidak dengan pretensi yang macam-macam. Semisal ada maksud untuk
menjadikan keberagamaan seseorang yang sebelumnya begitu putih (meminjam istilah Clifford Geertz, puritan) agar menjadi sedikit toleran
dengan menghargai eksistensi keberagamaan seseorang di ordinat yang lain.
Lain daripada itu, tetap ada sesuatu yang menarik bahkan cenderung krusial jika
kita mau serta mampu mencermati dengan seksama apa sesungguhnya hubungan yang
relasional antara agama dalam hal ini Islam
dan budaya.
Pemaknaan dan penelusuran
kajian mengenai hal ini, menurut saya merupakan sesuatu yang penting karena
nantinya pasti membawa pada satu paradigma berpikir dan bersikap. Munculnya
berbagai tipologi keberagamaan kontemporer saat ini bisa kita jadikan semacam
cermin refleksi, bagaimana sesungguhnya sebagian besar masyarakat kita memaknai
relasi antara Islam dan budaya. Tipologi keberagamaan yang saya maksudkan
disini bisa dimaknai dalam konteks pemikiran sehingga dikenal ada kategorisasi
Islam liberal, bisa juga kita maknai dalam konteks aqidah keyakinan sehingga
ada kategorisasi Islam fundamental. Begitu pun dengan tipologi yang lain
seperti Islam popular, Islam kultural, dan sebagainya yang senyatanya itu pun
masih dapat diperdebatkan.
Bagi kalangan yang sangat
teguh memegang prinsip-prinsip agama (dalam bahasa aqidah tauhid disebut dengan
qath’i) mereka akan cenderung menolak
unsur-unsur di luar ajaran agama Islam masuk dan menjadi ‘amaliyah keseharian di kalangan kaum muslimin. Bagi mereka
pegangan yang paling utama dalam menjalankan ajaran Islam mestilah bersumber
dari al-Qur’an dan al-Hadist.
Namun bagi mereka yang
memahami konteks sosio-historis perkembangan agama Islam di bumi Nusantara khususnya,
sebagian besar pasti tahu bahwa masyarakat sebelum Islam datang adalah satu
varian masyarakat yang sudah memiliki seperangkat sistem keyakinan sekaligus
budaya sendiri yang cenderung distingtif. Distingsi budaya itu
termanifestasikan dalam berbagai ritus-ritus tradisi yang berbeda antara tempat
yang satu dengan tempat yang lain. Berkat kearifan para Wali Songo,
tradisi-tradisi tersebut akhirnya tetap bertahan dan berakulturasi dengan
ajaran agama Islam. Relasi akomodatif antara Islam dan budaya setempat pada
akhirnya melahirkan tipologi keberagamaan tersendiri yang dikenal dengan
sebutan Islam kultural atau meminjam istilah Gus Dur, Islam pribumi.
Jombang, 16 September 2014
Andik Wahyun Muqoyyidin
(menetap di
andikwahyun.wordpress.com dan akun twitter @muqoyyidin)
Komentar
Posting Komentar