AICIS di Semerbak Coffee
Beberapa waktu lalu salah
seorang sahabat karib saya mengajak ketemuan
dan ngopi bareng di salah satu
kedai kopi favorit, Semerbak Coffee Jombang. Usut punya usut, dia membutuhkan
contoh paper atau makalah yang pernah
dipresentasikan pada forum konferensi tahunan kajian Islam atau dikenal dengan Annual International Conference on IslamicStudies (AICIS). Boleh dikatakan, AICIS ini merupakan gawe akbar tahunan Kementerian Agama RI dalam memajukan kajian-kajian
keislaman di tanah air. Pada tahun ini rencananya AICIS akan dihelat di
Balikpapan, Kalimantan Timur, dan merupakan event
AICIS yang ke-empatbelas.
| Banner AICIS 2014 |
Sub tema yang menjadi fokus
kajian sahabat saya adalah terkait dengan “Indonesian
Fiqh in Resolving Contemporary Problems”, jadi semacam bagaimana menemukan
solusi pemecahan masalah-masalah fiqh kontemporer di Indonesia. Sekalipun masih
sangat muda, sahabat saya yang sebentar lagi bakal meraih titel akademis Doktor dalam bidang Hukum Islam ini,
tergolong calon intelektual muslim potensial. Betapa tidak, perhatian dan concern-nya untuk pembaharuan kajian
keislaman dalam wilayah hukum Islam, tidak lagi diragukan.
Sembari menikmati kopi
Robusta favorit saya, kami akhirnya terlibat dalam diskusi setengah ilmiah. Berdasar pengalaman adakalanya ide-ide segar
mendadak melintas dengan cepat di tengah-tengah diskusi santai semacam itu.
Semisal, muncul ide pentingnya penguasaan bahasa asing yang memadai di dalam
kerangka memajukan dan memperluas jaringan intelektualitas kita. Salah satu
pengalaman yang mengesankan dan begitu memotivasi adalah ketika dalam AICIS
ke-13 di Lombok, Mataram, Prof. Azyumardi Azra menyampaikan keynote speech bertajuk “Distinctive Paradigm of Indonesian Islamic
Studies” dalam bahasa Inggris. Hal senada dilakukan juga oleh beberapa
pembicara utama yang lain.
Pemikiran lain yang muncul
dan tak kalah penting adalah terkait dengan wacana integrasi-interkoneksi
keilmuan. Satu wacana yang menjadi icon pemikiran
besar seorang Prof. Amin Abdullah. Sahabat saya tadi menceritakan bagaimana
ketika di ruang kuliah, Prof. Amin sering mengkritik kebijakan linearitas
pendidikan dengan mengatakan itu akan mempersempit paradigma keilmuan dan
menjadikan akademisi kita tidak tergerak berintegrasi-interkoneksi dengan orang-orang
dari berbagai lintas beda disiplin. Saya hanya manggut-manggut saja. Memang
pada satu sisi dengan kebijakan serba linier, seseorang akan begitu expert di bidangnya, namun di sisi lain,
adakalanya kritik Prof. Amin itu malah yang terjadi.
Akhirnya, tak terasa sesi pararel mini AICIS bersama sahabat saya
tadi usai seiring dengan seduhan terakhir kopi Robusta. *
Jombang, 17 September 2014
Andik Wahyun Muqoyyidin
(menetap di andikwahyun.wordpress.comandikwahyun.wordpress.com dan akun twitter
@muqoyyidin)
Komentar
Posting Komentar