Keberagamaan Distingtif Indonesia
Menarik ketika menyimak
salah satu tampilan video Democracy
Project, cendekiawan muslim Azyumardi Azra menyebut Islam Indonesia sebagai
Islam with Smiling Face. Satu jins keberislaman yang membedakan Islam
Indonesia dengan Islam di tempat-tempat lain, khususnya Timur Tengah. Islam
Indonesia selalu dapat digambarkan sebagai tipologi keberislaman yang toleran,
inklusif, mudah berakomodasi dengan tradisi lokal, dan sebagainya, meskipun
tidak dapat dipungkiri masih terdapat konflik bernuansa agama di beberapa
tempat.
Keberislaman dengan membawa
spirit profetik seperti itu, menurut Azra memang tidak lepas dari pengaruh
awal-awal penyebaran agama Islam yang banyak diwarnai unsur-unsur tasawwuf para
guru sufi. Bahkan Guru Besar Sejarah UIN Jakarta yang beberapa saat lalu
mendapatkan penghargaan the Fukuoka Award ini meyakini betul Islam di Indonesia
sebenarnya datang dan berkembang oleh para guru sufi, bukan oleh pedagang
Gujarat yang selama ini banyak disebut-sebut karena bukti-bukti terkait itu
tidak cukup kuat. Azra menyebutnya dengan sufi
theory (teori sufi).
Para guru sufi yang
terkenal sangat inklusif tersebut tidak mengambil sikap reaktif terhadap
tradisi-tradisi lokal. Mereka tidak serta merta mencoba membabat habis tradisi lokal itu, namun justru mengakomodasinya
dengan memasukkan unsur-unsur keislaman di dalamnya. Dalam historiografi Islam
Indonesia, andil besar Wali Songo tidak dapat dinafikan ketika berbicara
terkait penyebaran Islam dengan karakter akomodatif-akulturatif seperti itu. Karena
itu sangat disayangkan sementara ini ada pihak-pihak yang malahan tidak
meyakini eksistensi dan jasa Wali Songo dalam proses penyebaran Islam di tanah
air.
Distingsi keberagamaan khas
Indonesia yang penuh senyuman, toleran, serta inklusif tadi sekarang tengah
dihadapkan pada tantangan yang cukup berat. Tidak sedikit pihak-pihak yang
ingin mempurifikasi Islam Indonesia dari tradisi-tradisi lokal karena menurut
persepsinya tidak ada tuntunan terkait itu dalam keislaman yang murni. Belum
lagi pemikiran dan aksi-aksi vigilantisme baik yang datang dari dalam maupun
luar. Karena itu lah tugas generasi sekarang adalah bagaimana berupaya secara
keras nan cerdas merawat dan menjaga keberagamaan Islam with smiling face distingtif khas Indonesia. *
Jombang, 18 September 2014
Andik Wahyun Muqoyyidin
(menetap di andikwahyun.wordpress.com dan akun twitter @muqoyyidin)
Komentar
Posting Komentar